Belajar dari Mitra PfR (Partners for Resilience) Sikka

Oleh : Albertus Sani Sogen
Mengapa selalu mengadakan pertemuan bersama? Bukankah masing-masing mitra mempunyai identitas dan mempunyai lembaga donor yang berbeda? Itulah pertanyaan saya ketika mengikuti pertemuan Mitra PfR di Kantor LPTP (Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan) di Paga, 8 September 2014.

Pertanyaan ini beralasan karena sejauh yang saya tahu, Caritas, Care, Palang Merah dan Wetlands adalah 4 lembaga yang berbeda. Isu-isu dan program lembaga-lembaga ini juga berbeda. Ada yang fokus pada isu kebencanaan, isu lingkungan dan isu perubahan iklim. Beda kan?
Ternyata saya salah besar. Usut punya usut, ternyata terdapat dua hal yang membuat mitra PfR di Kabupaten Sikka begitu akrab.

Pertama, terkait lembaga donor. Komisi PSE/Caritas Keuskupan Maumere, LPTP yang berkantor di Paga, Wetlands Indonesia Program dan PMI Sikka adalah lembaga-lembaga yang mendapat dukungan dana dari Kementerian Luar Negeri Belanda melalui Caritas Belanda, Care Belanda, Palang Merah Belanda dan Wetlands Internasional Belanda. Meskipun mendapat dukungan dana dari lembaga induk yang berbeda, mereka sebenarnya adalah satu yakni sama-sama mitra PfR dari Pemerintah Belanda.

Kedua, terkait isu program. Meskipun mengusung isu yang berbeda: kebencanaan, lingkungan dan perubahan iklim, tiga isu ini sebenarnya saling berhubungan. Saling beririsan. Pengelolaan lingkungan yang tidak arif dapat berkontribusi pada perubahan iklim. Perubahan pola iklim dapat memperburuk ancaman bencana dan menyebabkan kerugian yang lebih besar. Inilah hubungannya.

Lalu apakah manfaat yang diperoleh dari pertemuan bersama antar Mitra PfR di Kabupaten Sikka? Manfaat yang diperoleh mitra sangat tinggi. Sharing keahlian, saling support, saling memperkuat, keterbukaan, transparansi dalam proses, partisipasi dalam pengambilan keputusan, tak bersaing, dan membangun relasi yang mesra meski via sms atau email adalah beberapa manfaat yang dirasakan masing-masing lembaga mitra PfR.

Bukan hanya itu. Mitra PfR di kabupaten Sikka saat ini sedang gencar membangun kerja sama kemitraan dengan pemerintah/dinas instansi terkait, akademisi dalam hal ini Fakultas Perikanan dan Kelautan UNIPA Sikka, media cetak dan mitra lokal non PfR lainya. Hasil riset iklim yang kini menjadi acuan para pihak menyongsong musim tanam 2014/2015, meningkatnya kapasitas komunitas dalam mengadapi ancaman bencana, penyebarluasan teknologi hybrid engineering, kajian di wilayah sub DAS Riawajo dan Dagesine Magepanda adalah beberapa hasil program di lapangan.