Bentara Cahaya

Oleh : Eman Embu
Senin, 22 September 2014. Cecilia Heru Purwatiningsih, Diah Wulansari, dan Christiana Wahyu Cahyani, tiba di Bandara Frans Seda, Maumere dalam perjalanan ke SDK Nanga di Pulau Besar. Sekelompok murid-murid sekolah dasar mengenakan seragam sekolah menjemput mereka di bandara. Sebagai bagian dari ungkapan rasa rindu dan harapan, di bandara di tengah hiruk pikuk orang-orang ramai, kelompok murid-murid tadi membentangkan poster ucapan selamat datang.
Guru-guru tersebut akan mengajar di SDK Gusung Karang. Sekolah di pulau kecil tersebut didirikan tahun 1953. Murid-murid yang belajar di Gusung Karang berasal dari beberapa kampung di sekitar sekolah yaitu, Loang, Gusung Karang, Nanga, Urundetung, dan Gusung Pandang. Jumlah murid dalam tiga tahun terakhir dari tahun 2012-2014 adalah sebagai berikut berturut-turut 96, 86, 82 orang. Sejak tahun berdirinya, anak-anak Katolik dan Muslim belajar bersama di sekolah tersebut.

Dalam tiga tahun terakhir ini jumlah guru hanyalah 7 orang. Di antaranya, cuma ada dua orang guru tetap. Yang lainnya adalah guru-guru bantu. Sudah lama sekali sekolah di daerah terpencil ini kekurangan guru IPA, Matematika, dan Bahasa Indonesia.

Apa yang disampaikan tadi adalah sepenggal kecil narasi tragis tentang pendidikan anak-anak di daerah pelosok. Pasti, di pelosok lain, ada narasi yang lebih tragis dari yang dipaparkan ini.
Kehadiran tiga gadis lususan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, menunjukkan bahwa penjajakan yang sudah berjalan beberapa bulan sebelumnya oleh Indosia TV dan Caritas Maumere untuk memulai suatu pilot project peningkatan mutu pendidikan, khususnya untuk sekolah-sekolah dasar di daerah terpencil di pelosok-pelosok Indonesia kini mulai menjadi kenyataan.

Tak bisa tidak, dengan kehadiran mereka di Pulau Besar, satu tonggak perubahan maha penting sudah dipatok. Mengapa? Semua orang tahu bahwa pendidikan yang baik adalah fondasi untuk hidup manusia yang lebih bermartabat dalam segala aspek kuncinya. Juga semua orang tahu bahwa pendidikan yang baik mengandaikan tersedianya banyak hal dasar pendukung. Satu di antaranya adalah adanya guru-guru yang bermutu, yang berakhlak mulia, penuh dedikasi dan dalam jumlah yang memadai.

Ironisnya, selain karut marut dalam banyak bidang yang tak menunjang terciptanya pendidikan dasar dan menengah yang baik, kekurangan guru-guru yang bermutu, apalagi di pelosok-pelosok terpencil negeri ini, sudah lama menjadi ulang-tutur, tapi tak banyak intervensi nyata, apalagi yang komprehensif, untuk mengatasinya.
Kalau diibaratkan sebagai suatu perjalanan, kedatangan tiga guru daerah tertinggal tersebut adalah langkah pertama untuk suatu perjalanan panjang, yang pasti tak gampang. Ini adalah bentuk partisipasi publik – dalam hal ini Indosiar TV – dalam membangun dunia pendidikan di Indonesia. Untuk melukiskan semangat dasar di balik partisipasi ini, Direktur Utama Indosiar TV, E. Loe Soei Kim, mengutip ungkapan yang rupanya berasal dari peribahasa kuno China, “It’s better to light a candle than to curse the darkness”. Lebih baik menyalakan sebatang lilin, ketimbang melaknati kegelapan.

Agar partisipasi dalam bidang ini berjalan dengan baik dan benar, maka tahun pertama dari program ini dengan sangat sadar dijadikan sebagai suatu proses belajar. Untuk itu, proses konsultasi, monitoring, dan evaluasi akan dibuat dengan saksama. Darinya akan diperoleh pembelajaran untuk kegiatan serupa yang akan direplikasi di pelosok-pelosok lain di negeri ini.

Kesepakatan Indosiar TV bekerjasama dengan Caritas Keuskupan Maumere untuk memulai program ini di Indonesia adalah suatu tantangan yang sangat besar baik untuk Indosiar TV maupun untuk Caritas Kesukupan Maumere. Tantangan untuk keluar dari sekedar keluhan fatalistik prihatin tanpa berbuat apa-apa, tantangan untuk menjawabi mimpi besar bersama untuk ambil bagian menciptakan anak didik yang cerdas dan berakhlak mulia, tantangan untuk menerjemahkan komitmen dan keyakinan bahwa perubahan, pembentukan akhlak dan watak, penanaman nilai, penguasaan ketrampilan dalam diri anak-anak didik itu dapat dijalankan. Semuanya ini diterjemahkan ke dalam intervensi-intervensi konkret yang pelaksanaan dan hasilnya dapat diperiksa dan diukur secara bertanggungjawab.

Dari sejarah perkembangan masyarakat Flores, kita dapat mengatakan dengan suatu ketegasan tanpa ragu, bahwa guru adalah agen pembaharuan dan perubahan masyarakat dalam banyak bidang. Mereka adalah kunci dalam sekolah-sekolah yang adalah lembaga pembentukan nilai-nilai kemanusiaan. Malah, mereka adalah salah satu agen utama perubahan masyarakat khususnya pada level akar rumput.

Guru-guru, dalam kenyataan ideal, adalah orang-orang yang dengan kepribadian mulia, komitmen kukuh, dan punya ketrampilan yang tak hanya satu. Mereka selalu berjalan mendahului, memberi arah dan menunjuk jalan untuk warga masyarakat. Di pelosok-pelosok, mereka berjalan di depan, orang-orang kampung, warga masyarakat pada umumnya berjalan di belakang, mengikuti jejak mereka. Ini terjadi baik dalam bidang pendidikan, bidang kemasyarakatan pada umumnya, dan juga dalam bidang keagamaan.

Dengan kata lain, guru-guru adalah penjaga dan pembawa terang kebijaksanaan, pengetahauan, dan ketrampilan. Singkatnya, mereka adalah bentara terang. Malah diharapkan, tidak sekedar menjadi penjaga dan pembawa terang pengetahuan dan kebijaksanaan serta menjadi pencipta akhlak mulia saja, tetapi pribadi dan hidup mereka sudah semestinya menjadi bagian dari kebijaksanaan dan pengetahuan yang mereka bawa. Dengan kata lain, untuk sesama, mereka bukan sekadar pembawa berkat, tetapi adalah berkat.
Sejatinya, guru adalah suatu profesi, atau lebih dari sekedar profesi, ia adalah suatu panggilan yang sangat mulia. Dan tentu saja, ini menjadi tantangan untuk tiap guru, dan terlebih tantangan untuk guru-guru yang dengan rasa bahagia dan penuh optimisme dan dengan penuh kesadaran memutuskan untuk menjadi bagian penting dari program guru untuk sekolah-sekolah di pelosok negeri.