Komedi Relokasi

Kelurahan Hewuli di pinggiran barat Maumere adalah satu dari dua tempat relokasi warga Palue pasca Letusan Rokatenda 2012/2013. Di sana, sebagian dari 249 rumah sudah dibangun. Biaya pembangunan per unit 15 juta. Pengungsi sendiri yang membangun rumah-rumah mini berukuran 6 x 4 meter.

Seng atap rumah-rumah itu berdempetan. Tak ada halaman. Tak ada fasilitas MCK. Tak ada fasilitas air bersih. Sejak awal sudah ada keberatan dari masyarakat, bahwa 249 keluarga tak boleh dijejal di sana seperti ikan sarden dalam kaleng. Tapi, Pemkab maju tak gentar dengan keputusan yang sudah diketuk.

Relokasi bukan sekedar membangun rumah. Relokasi adalah membangun hidup, dalam semua aspek kuncinya. Para pengungsi yang mendiami rumah-rumah tersebut adalah petani. Ada nelayan, tapi itu musiman. Bagaimana mereka melanjutkan hidup? Kalau diarahkan untuk bekerja pada sektor jasa, bidang apa, dan apa ketrampilan mereka? Gagal menjawab pertanyaan ini sama artinya dengan menulis lagi kisah kegagalan relokasi warga Palue yang sudah terjadi tidak hanya sekali, sejak letusan tahun 1928. Kisah tentang petugas negara yang mengidap amnesia kronis. Tragis, tentu.

Bagaimana ihwal relokasi ke Pulau Besar? Sangat parah! Sesudah rencana relokasi berjalan hampir setahun, anehnya baru pada 18 November 2013 diketahui bahwa Pulau Besar adalah kawasan konservasi. Setelah mendapat izinan dari Kementrian Kehutanan, pada 9 Desember lalu, tanpa koordinasi, ketua BPBD memobilisasi alat berat ke Pulau Besar. Akibatnya, sebulan nganggur. Sampai sekarang, sesudah hampir tiga bulan berlalu, kemajuan penggusuran lokasi di sana tak seberapa. Artinya, pengungsi harus terus menunggu, tak tahu sampai kapan.

***

Di Indonesia relokasi warga dari daerah bencana selalu sulit. Dalam kasus Rokatenda dan juga dalam banyak kasus bencana gunung api, kesulitan dan kegagalan relokasi alasannya tak tunggal. Beberapa bisa dicatat.

Satu, kepastian ekonomi. Ini adalah suatu hal dasariah untuk petani. Daerah sekitar gunung api tanahnya subur. Karena itu, banyak perkampungan dan kota-kota di Indonesia letaknya tak jauh dari gunung api. Palue, satu pulau gunung api, memang kering. Tapi ada kepastian ekonomi untuk warga yang sudah lama menghuni pulau itu. Rumah tinggal sudah mereka bangun. Mereka tahu dimana mendapatkan bahan makanan. Jaringan pasar sudah terjalin. Mereka harus mulai dari awal kalau pindah ke tempat baru.

Dua, kebudayaan. “Lebih dari sekedar tumpuan ekonomi, gunung api adalah bagian dari kebudayaan masyarakat. Karena itu, sekuat apa pun daya hancur gunung api, warga selalu kembali mendekat. Daerah yang memiliki banyak gunung api terbukti paling padat penduduknya,” tulis Ahmad Arif, dalam Hidup Mati di Negeri Cincin Api (2013: 189). Seperti komunitas-komunitas lain di Flores, orang-orang Palue mempunyai ikatan yang kukuh dengan dua hal: tanah dan leluhur.

Tiga, trust (kepercayaan) kepada Pemerintah. Tingkat kepercayaan warga kepada pemerintah sangat rendah, termasuk soal pembangunan fasilitas di tempat relokasi, seperti jalan, listrik, dan air minum. Ini buah dari korupsi yang sudah berurat akar. Rakyat menunggu bukti, bosan dengan janji-janji. Lebih lanjut, perencanaan relokasi dan eksekusinya  yang lelet membuat pengungsi jenuh. Momentum untuk relokasi pun hilang.

Sulit tidak berarti tak bisa. Kasus relokasi warga di Waduk Pluit dan Pasar Tanah Abang, Jakarta adalah kisah sukses. Awalnya, banyak warga menolak rencana Pemerintah. Tetapi ketika dikerjakan dengan cepat, kualitasnya baik, dan yang utama ada dialog yang dibuat berkali-kali serta pendekatan yang menghormati hak dan martabat warga, akhirnya orang-orang itu antre untuk pindah. Di sana pemerintah menunjukkan diri bahwa mereka cakap, cekatan, dan karenanya layak dipercayai oleh warga. Ini yang hilang dalam urusan relokasi Rokatenda. Artinya, investasi dalam bidang trust ini abai dibuat oleh pemimpin baru di Sikka. Ini kisah komedi kepemimpinan, yang getir.

***

Sekarang sekitar 80% pengungsi di Kamp Bekas Kantor Bupati Sikka sudah pulang ke Palue. Masuk akal. Mereka lelah dan sangat jenuh menunggu dalam ketidakpastian. Kalau saya terbilang dalam kelompok ini, saya juga sudah pulang.

Tak bisa tidak, halaman-halaman relokasi Rodakatenda berisi komedi. Dalam komedi ada kegetiran, kepedihan, dan sindiran. Tapi, dalam komedi juga ada kemampuan untuk mempermainkan semuanya itu. Sehingga orang bisa geli dengan diri sendiri, plus, bisa mengolok-olok para pemimpin yang mereka pilih. Dengan itu, komedi mengungkapkan daya hidup dan kelentingan menghadapi masalah.

Dengannya kita mengerti, misalnya, ada janji distribusi makanan dari pemerintah untuk pengungsi. Pelaksanaannya selalu terlambat. Tapi, ada pengungsi yang malah tertawa.  Mereka geli dengan diri sendiri yang sudah salah pilih pemimpin.

Tahun lalu di Denpasar diadakan pertemuan pimpinan dan aktivis antariman bertema, “The Resilience of Local Faith Based Communities in Indonesia: Model, Strategies and Principles to be Contributed to Post 2015 Agenda”.

Pertemuan ini meyakini bahwa, “Kalau rakyat kecil masih bisa bertahan hidup dalam tekanan kegagalan pembangunan, konflik, dan bencana,  itu karena mereka punya  kelentingan. Dan kelentingan itu muncul karena adanya  kohesivitas sosial dan spiritualitas  rakyat. Hanya kelentinganlah modal rakyat untuk menghadapi masa depan hidup yang tidak menentu.”

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *