Mari Kita Peduli!

Oleh : Margaretha Helena – Koordinator Program CBR

Ina tung A,u ei sekolah sai ko, imung-imung A’u pano sekolah meha ba’a, A’u  laeng sekolah” (Mama antar saya ke sekolah sudah, teman-teman saya sudah pergi sekolah saya belum sekolah).

“ E me’aung, orin sekolah di blawir, laeng poi ita naha lewak ei napung, walong Au , naha wi hekeng odi A’u rehi golo.” (Anakku rumah sekolah juga jauh, apalagi kita harus melewati kali, kamu harus saya gendong, pasti saya tidak bisa)

Di atas adalah percakapan antara Yustinus Riel Lino, bocah laki-laki berusia 6 tahun dengan Neneknya Hermiana Tina 56 tahun. Riel sapaan dari Yustinus Riel Lino bocah laki-laki yang sejak kepergian ibunya empat tahun yang lalu tinggal besama kedua neneknya Antonius Yulianus (61 thn) dan Hermiana Tina (56 thn). Dalam kesehariannya Riel, lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Dia adalah salah satu penyandang difabel tuna daksa, yang tidak memiliki akses keluar dari rumah, baik akses jalan, alat bantu maupun lingkungan yang menerima.  Warga Rt. 005, Rw. 002, Kelurahan Nangalimang, Kecamatan Alok ini, setidaknya dapat mewakili para difabel yang ada di Kabupaten Sikka.

Riel, yang awal perkenalan dengan kami ketika mengunjungi beliau di rumahnya sekitar bulan Pebruari  2016 yang lalu adalah anak yang pemalu dan sedikit ragu bertemu dengan orang baru. Tetapi setelah perkenalan awal empat bulan yang lalu, Riel kini mulai kelihatan berubah. Mengapah?

terapi difabelKetika Keuskupan Maumere melalui Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi dan Caritas mengadakan Pelatihan Penguatan Kapasitas Orang Tua dan Kader Pendamping para difabel 14-16 April 2016, bertempat di Hotel Gading Beach, Riel dan Mama Hermina Tina menjadi peserta. Kehadiran Ibu Hermina dan Riel juga beberapa orang tua dan anak difabel membawa suasana baru.

Pelatihan yang diikuti oleh Kader Posyandu melibatkan ini juga para difabel dan orang tuanya. Partisipasi mereka dalam pelatihan ini memberikan banyak kontribusi kepada peserta lain yang kesehariannya tidak langsung bersentuhan dengan difabel. Testimoni dari  Alexia Mitan, Damianus Nong, Dindus Iry, Getrudis Sare dalam pelatihan tadi memberikan banyak gambaran bahwa difabel tidak mmemiliki akses untuk mendapatkan pelayanan publik, seperti, akses terhadap pendidikan, kesehatan, fasilitas umum, pekerjaan yang seharusnya dapat mereka akses seperti warga lain.

Out put dari pelatihan yakni empat orang difabel di antaranya Riel mendapatkan pelayanan fisioterapis di Puskesmas Waipare. Mereka adalah penderita tuna daksa yakni keterbatasan dan kekurangan dalam kesempurnaan tubuh, seperti, kaki dan tangan lumpuh layu, otot atau motoriknya kurang terkoordinasi dengan baik.

Kehadiran Riel dan teman-temanya, Elisabeth Triyuni (11 thn), Petrus Reinaldy (9 thn), Natalius Davidson (2 thn), dan Niesha Alda (7 thn) setiap hari Jumat dari Pkl. 09.00 s/d Pkl. 12.30, di Puskesmas Waipare menunjukkan bahwa Puskesmas ini memberikan akses pelayanan kesehatan untuk Difabel.

Terapi yang dijalankan oleh Riel dan teman-teman sudah dimulai pada Bulan Mei lalu dan sampai saat ini masih berjalan. Meskipun menggunakan ruangan penimbangan balita dan terapi manual tanpa alat, tidak menyurutkan semangat Riel dan teman-temannya untuk datang. Margaretha Yunita Kray, terapis yang menangani Riel dan teman-teman juga sesama tenaga kesehatan lainnya yang bertugas di Puskesmas Waipare selalu menunjukkan sikap yang ramah. Keramahan mereka adalah bagian dari terapi sosial untuk Riel dkk. Sikap ini mampu meningkatkan rasa percaya diri orang-orang difabel. Mereka mulai dapat menunjukkan diri bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat yang dapat bersosialisasi dengan siapa saja dan di mana saja.

Perubahan motorik atau fungsi gerak tubuh, mungkin sangat pelan, tetapi perubahan emosional mereka sangat tampak. Di kedatangan mereka pada Minggu I dan II pelatihan, penuh rasa takut, lebih bnayak menangis dan tidak mau ada kontak mata dan fisik dengan orang lain selain ibu, kini tidak lagi terlihat. Riel dkk sudah dapat tersenyum dan mau diajak berkomunikasi. Alda yang pada Minggu pertama terapi menangis sepanjang perjalanan dari Maumere menuju Puskesmas Waipare, di minggu berikutnya tidak lagi menangis.

Tokoh kunci dibalik perubahan yang terjadi pada Riel dan teman-temannya ini adalah Kepala Puskesmas Waipare,  Sofia Yasintha, S. Kep. Ns, yang akrab dipangil Mama Opi. Dukungan dari Mama Opi sejak awal proses konsultasi, koordinasi, pelatihan sampai  pelaksanaan terapi sungguh luar biasa. Di sela-sela kesibukan sebagai kepala puskesmas beliau selalu menyiapkan waktu, memberikan pikiran dan saran-saran ketika kami berkunjung ke puskesmas maupun ke rumahnya.  Kepada orang tua dan orang difabel pada setiap hari Jumat, beliau memberikan motivasi bahwa proses terapi ini membutuhkan waktu dan kesabaran. Ini menjadi daya dorong bagi orang tua agar  tidak bosan mengantar anaknya menjalani terapi.

Di balik sosok Mama Opi, ada Margaretha Yunita Kray, Amd. Fis., yang kesehariannya disapa dengan Etna. Gadis hitam manis jebolan Akademi Fisioterapi Yogyakarta Angga Binangun (YAB) ini  adalah terapis yang sejak dua tahun yang lalu menjadi salah satu tenaga kesehatan di puskesmas ini. Keceriaan selalu muncul di wajah Etna ketika para ibu menceritakan perubahan yang mulai nampak pada anak-anaknya setelah menjalani terapi. Davidson yang sebelumnya hanya dapat tidur dengan cara terlentang kini dapat membalikkan badanya dan dapat tengkurap. Riel yang awal terapi selalu meringis kesakitan dan tidak dapat berdiri kini tidk lagi meringis dan di rumah mulai belajar berdiri dengan berpegangan pada tumpuan tertentu. Yunita dan Reinaldy yang selalu duduk dengan cara melipatkan kaki ke belakang kini sudah dapat menjulurkan kaki ke depan. Tangan-tangan yang sebelumnya selalu digenggam kini dapat dibuka dan memegang sesuatu. Ini adalah contoh kecil tentang hasil dari program Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM) di Caritas Keuskupan Maumere. Program ini mendorong keterlibatan masyarakat di sekitar difabel tinggal untuk ikut berkontribusi membantu merehabilitasi difabel dalam pemenuhan hak-haknya.

Di dalam Undang-undang No. 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas, Pasal 5 telah  diatur 22 hak-hak orang difabel yang harus menjadi perhatian Negara, yaitu,  hak hidup, hak bebas dari stigma, hak pendidikan, hak kesehatan, hak pelayanan publik, hak bebas dari tindakan diskriminasi, penelantaran, penyiksaan dan eksploirtasi. Masih ada sejumlah hak yang lain.

Sejumlah hak yang telah diatur dengan baik di dalam undang-undang ini tidak serta merta menjamin bahwa pelayanan hidup orang difabel akan menjadi lebih baik dari sekarang. Ini butuh kerjasama para pihak baik lembaga pemerintah, swasta, agama dan masyarakat. Kepedulian kita semua menjadi harapan besar dari orang-orang difabel untuk mencapai cita-citanya yakni mendapat persamaan hak dengan sesama yang lain.