Menanam Untuk Kehidupan

Oleh : Margaretha Helena – Koordinator Program CBR

“Jangan Warisi Anak Cucu Dengan Air Mata Tetapi Warisi Anak Cucu Dengan Mata Air”. “Jika Kamu Menebang Sebatang Pohon, Kamu Harus Menanam Seribu Pohon”

Semangat inilah yang mendorong keluarga besar PSE Caritas Keuskupan Maumere melalui kegiatan Out Bond di awal tahun 2017 mengunjungi Pomat. Pomat adalah salah satu kampung kecil di wilayaha Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka. Jaraknya dari dari pusat kota kurang lebih 4,5 Km. Lokasinya yang berada 700 meter diatas  permukaan laut menjadikan Pomat terisolir dari segala aspek yang bermerek pembangunan.

Kamis, 5 Januari 2017 aktifitas kantor  PSE Caritas Keuskupan Maumere yang berlokasi di Jalan Soegyopranoto No. 1 Maumere tidak berjalan. Para staf dan manajemen lembaga yang berjumlah 20 orang, hari itu menuju ke Kampung Pomat. Kegiatan Out Bond yang selalu diadakan setiap akhir atau awal tahun dan bertujuan memberikan penyegaran kepada para staf tahun ini sedikit berbeda. Konsep rekreasi ke pantai dengan sejumlah acara untuk meningkatkan semangat kerja, merekatkan persaudaraan dan kegembiraan kali ini dikemas menjadi kegiatan “Mencintai Lingkungan”.

rr-caritas-outbond-20170105-124-smallTepat Pukul 08.00 Wita, para staf telah berkumpul di kantor. Menggunakan dua mobil berjenis Mitsubishi dan Truk yang telah dimodifikasi sebagai angkutan penumpang, membawa rombongan menuju Kampung Pomat. Para staf yang hari itu merubah penampilan bukan sebagai orang kantoran, dengan membawa sejumlah peralatan kerja seperti linggis, sekop dan cangkul dalam suasana kegembiraan menumpang kedua kendaraan. Kendaraan pertama jenis Mitsubihi yang diawaki oleh Om Philipus Bate berangkat lebih awal dengan membawa sejumlah logistik. Mobil Truk Mardiwiyata Trans bernomor EB 2286 MA  diawaki oleh Om Bonefasius membawa rombongan. Perjalanan yang ditempuh kurang lebih satu jam menuju Kampung Pomat yang berada di wilayah barat Kota Maumere. Perjalanan memamerkan pemandangan laut Kota Maumere dari ketinggian bukit Urung Pigang menuju Pomat. Sebelum tiba di lokasi rombongan dijamu minum di rumah Bapak Fransiskus Minggu, Ketua Lingkungan Santa Agnes Pomat. Kurang lebih 30 menit dijamu minum, rombongan menuju Kapela. Di halaman Kapela telah ada sejumlah anakan beringin dalam polibek dari Dinas Kehutanan Kabupaten Sikka. Setelah mendapat sedikit pengarahan dari ketua panitia Bapak Fransiskus Anjelinus, rombongan menuju mata air Koja Gelo. Dengan berjalan kaki menempuh jarak kurang lebih 1,5 km, menyusuri kebun, semak belukar dan pohon-pohon besar rombongan menuju lokasi dengan membawa anakan beringin. Ikut bergabung bersama rombongan ini sejumlah anak, beberapa pemuda dan Bapak Blasius Lusidius (62 tahun) tokoh masyarakat Pomat. Anselmus Radja, Fransiskus Haryono dan  Adrianus Ardi Nong fasilitator lapangan yang keseharian berada di lapangan dengan gesit mencapai lokasi mata air. Medan yang rumit tidak menyulitkan mereka untuk mencapai lokasi lebih awal dari yang lain. Beberapa staf kantor yang selama ini berada di balik meja, berjalan tertatih-tatih menuju lokasi. Sambil bercerita dan menggerutu karena lokasi yang sangat sulit, rombongan akhirnya tiba juga. Penanaman di mata air berlangsung penuh semangat, tidak ketinggalan kamerawan handal PSE Caritas Moat Joni dan Moat Ryan mengabadikan moment menanam. Kawasan mata air yang keaslian hutannya masih terjaga dengan baik, menyulitkan satu rombongan kecil yang sempat tersesat ketika kembali.  Mata air Koja Gelo adalah sumber air yang mengalir ke Kampung Pomat. Ada 40 KK sekitar 300 jiwa yang memanfaatkan sumber air ini untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Di musim kemarau mereka juga memanfaatkan air untuk usaha tanaman sayur pekarangan. Setelah melakukan penanaman rombongan kembali berkumpul di Kapela Pomat untuk makan siang bersama. Menu makan siang dengan hidangan makanan lokal : nasi jagung, lawar daun ubi, kuah asam, jagung rebus, pisang rebus, ikan bakar dan RW mampu mengembalikan tenaga yang terkuras dalam perjalanan ke mata air. Kecapehan dan kepenatan badan terbayar lunas dengan menu makanan yang tersedia.

rr-caritas-outbond-20170105-189-smallDirektur PSE Caritas Keuskupan Maumere RD. Kanis Mbani, dalam sambutan sebelum makan siang menyampaikan banyak terima kasih kepada Umat Stasi Pomat yang dengan suka cita menyambut gembira tim PSE Caritas. Partisipasi umat teristimewah beberapa anak Sekolah Dasar Inpres Urung Pigang yang sedang liburan, menurut RD. Kanis Mbani sangat bagus. Peristiwa tanam di mata air ini pada sepuluh atau dua puluh tahun akan terus dikenang. Peristiwa ini mengajarkan kepada anak-anak untuk selalu menanam dan menjaga  lingkungan.  Selesai makan siang dilanjutkan dengan rekreasi bersama dan kembali ke Kota Maumere.

Kegiatan ini sangat berkesan karena dilakukan bersama oleh Tim PSE Caritas KeUskupan Maumere. Secara kelembagaan PSE Caritas konsen dengan issu penyelamatan lingkungan. Ini terlihat secara nyata di program lembaga yang selama ini dijalankan seperti Program Pengurangan Resiko Bencana yang memperhatikan juga pertanian lahan kering dan pengembangan horticultura. Program Kemitraan Untuk Ketangguhan yang memperhatikan adaptasi perubahan iklim dan pelestarian lingkungan khususnya air dengan sistim 3M (menampung, menyimpan dan menggunakan). Program Rehabilitasi Kakao yang sangat kuat mendorong untuk mengurangi penggunaan input luar yang bersifat merusak humus tanah dan merusak tanaman.

Sekiranya kegiatan seperti ini disadari dan dilakukan oleh semua instansi/kantor baik pemerintah, swasta dan dunia usaha akan memberi dampak yang baik untuk pelestarian lingkungan. Kesan gersang, tandus dan kekurangan air yang selama ini melekat dengan Kota Maumere dapat dihindari. Mudah-mudahan tanaman beringin yang ditanami ini akan memanen air dan dapat menjadikan mata air baru beberapa puluh tahun ke depan.