Riset Iklim untuk Petani Sikka

Oleh : Margareta Helena
Untuk petani, lahan dan hujan adalah dua hal saling berhubungan. Ketergantungan petani pada hujan menunjukkan bahwa petani di NTT adalah petani tadah hujan. Musim hujan yang berlangsung kurang lebih empat bulan, yaitu November, Desember, Januari, Februari, dan Maret, membuat para petani harus memaksimalkan lahan pertanian.

Untuk membantu petani, upaya keras dari pihak terkait seperti Dinas Pertanian dan Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) berupa program yang berorientasi produksi terus dilakukan. Mendatangkan bibit unggul dari luar daerah, menerapkan teknologi pertanian, memberikan dana insentif, membuka jalan usaha tani, membangun irigasi adalah cara-cara yang selama ini ditempuh untuk mengejar produksi.

Kurang lebih 10-15 tahun terakhir ini petani kita dihadapkan pada situasi alam yang tidak bersahabat. Panas berkepanjangan, curah hujan tinggi, angin kencang, banjir bandang, tanah longsor, gempa bumi, hama penyakit pada tanaman dan hewan, kebakaran hutan, erupsi gunung merapi dan wabah penyakit pada manusia. Perubahan yang dramatis ini menurut sejumlah kalangan sebagiannya adalah akibat dari perubahan iklim. Di hampir seluruh pelosok Indonesia, para petani mengalami situasi yang sama.

Menghadapi kondisi seperti ini, para petani perlu kepastian-kepastian tentang perubahan iklim tersebut dan respon yang tepat atas segala dampaknya. Caritas Maumere melalui Program Partners for Resilience atau Kemitraan untuk Ketahanan memberikan perhatian khusus perubahan iklim yang sangat berdampak bagi para petani ini. Diawali dengan membangun diskusi bersama petani dari 3 desa dampingan, Caritas berusaha membantu petani membuat tindakan-tindakan kecil untuk beradapatasi dengan perubahan iklim.

Apa yang sudah dilakukan? Masyarakat menanam pohon di lahan tidur, menjaga sumber mata air dengan menanam tanaman lokal yang dapat menyimpan air di kawasan mata air, membudidayakan tanaman sorgum, membuat tungku hemat energi, membuat penahan sedimen lumpur di pesisir pantai, membuat sumuran resapan dan jebakan air. Kendati demikian harus diakui bahwa kegiatan-kegiatan kecil ini belum memberikan kontribusi yang berarti untuk petani di Sikka, karena cuma beberapa petani yang mulai mencoba.

Menyadari bahwa belum semua petani Sikka mulai melakukan tindakan adapatasi, Caritas bekerjasama dengan ITB (Institut Teknologi Bandung) melakukan penelitian iklim. Mengambil judul Pengembangan Model Proyeksi Iklim Untuk Potensi Bencana Iklim dan Proyeksi Masa Tanam, penelitian ini mengambil sampel dari 22 desa di Sikka, data dari kantor BMKG Larantuka, Ruteng dan Kupang dan data dari SKPD terkait. Tujuan dari penelitian ini yakni adanya model pengembangan iklim di wilayah Kabupaten Sikka dan mendorong pemerintah daerah untuk menerapkan hasil proyekssi iklim yang telah dihasilkan.

Penelitian iklim ini diadakan pada bulanMei – Juli 2014, pengolahan data berlangsung di Laboratorium Meteorologi Terapan ITB. Hasil ini telah diseminarkan pada tgl 1-2 September bertempat di Hotel Silvya Maumere. Apresiasi dari pemerintah daerah dan para petani desa penelitian selama 2 hari menunjukan bahwa mereka sangat tertarik dengan hasil proyeksi iklim ini. Sejumlah SKPD dan petani yang hadir saling berebutan menyampaikan pertanyaan dan mempertanyakan keabsahan dari penelitian ini. Dinamika diskusi berlangsung hangat karena sejumlah hasil proyeksi iklim berbeda dengan apa yang dialami selama ini di lapangan. Contoh kecilnya hasil proyeksi iklim menunjukkan bahwa Desa Habi pada Bulan September ada turun hujan kurang lebih 150-200 mm. Kenyataan selama ini di Habi hujan baru turun di akhir bulan November. Contoh lainnya ada wilayah Magepanda proyeksi iklim menggambarkan hujan mulai turun pada bulan September dan semakin tinggi dari bulan ke bulan sampai bulan Desember. Hujan akan berhenti di Bulan Januari. Para Penyuluh Lapangan dari Kantor Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan yang ikut hadir sangat tercengang dengan presentasi ini. Jika penelitian ini keakuratan datanya mencapai 80%, artinya mereka harus kerja keras menyakinkan petani untuk mulai menyiapkan lahan untuk tanam pada Bulan September-Oktober ini.

Untuk pembuktian bahwa penelitian ini dapat dipakai oleh SKPD ketika menyusun program dan kesiapan petani menyongsong musim tanam tahun ini, SKPD dan petani yang hadir membuat rencana tindak lanjut mengacuh pada hasil riset ini. Kantor Badan Penyuluh Pertanian dari 21 kecamatan akan membuat demplot pengujian menggunakan hasil proyeksi iklim. Dinas pertanian akan membuat pemilihan komoditi spesifik wilayah sesuai hasil proyeksi iklim. Sejumlah petani dari Lela, Magepanda, Paga, Talibura yang mewakili desa sampel penelitian akan memilih komoditi yang cocok sesuai proyeksi iklim dan menghindari membuka lahan di lokasi yang berpotensi bencana longsor, angin dan banjir.

Kita berharap bahwa rencana tindak lanjut ini akan membuahkan hasil untuk keberlangsungan petani di Nian Sikka. Harapan yang besar ini membutuhkan dukungan dari semua pihak. Bupati Sikka Drs. Ansar Rera ikut hadir dihari I telah menyatakan bahwa Pemda Sikka akan menggunakan hasil proyeksi iklim ini untuk kepentingan pembangunan di Sikka.
Kehadiran dari beberapa kepala SKPD Sikka seperti Kepala Badan Ketahanan dan Penyuluhan, Kepala Dinas Pertanian, Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Kepala Badan Perencanaan dan Pembanguna Daerah ikut memberi kontribusi pikiran yang bagus demi suksesnya rencana implementasi hasil proyeksi iklim lima tahun ke depan.