logo-ckmCaritas Keuskupan Maumere didirikan pada tanggal 01 November 2006 oleh Mgr. Vincentius Sensi, Uskup Maumere, sebagai respon terhadap rentetan bencana yang terjadi di Indonesia pada tahun-tahun sebelumnya.

Fokus kegiatan pada 2007-2008 adalah Pengembangan dan penguatan lembaga agar dapat menjalankan program-program strategis yang sejalan dengan visi dan misi lembaga.

Tahun 2008-2010 Caritas Maumere menjalankan dua program yaitu Pengurangan Risiko Bencana yang Dimanajemeni oleh Masyarakat (Community Managed Disaster Risk Reduction) dan Perjuangan hak-hak Perempuan serta perlindungan bagi para korban kekerasan.

Tahun 2010-2012, selain melanjutkan tiga program yang sudah ada, Caritas  menjalankan dua program baru yaitu Program Paroki Hijau dan Sekolah Hijau (Green Parish and Green School) yang dilakukan di Nangahure, sebuah  paroki yang kering dan tandus yang terletak di pinggiran kota Maumere,  dan Rehabilitasi Berbasis Komunitas (Community Based Rehabilitation), suatu program pemberdayaan bagi kaum difabel, yang dilakukan di Keuskupan Larantuka, Maumere, dan Keuskupan Agung Ende. Selanjutnya, dua program baru dijalankan. Pertama, PfR (Partners fo Resilence) atau Kemitraan untuk Ketahanan yang berfokus pada tiga area kunci: Adaptasi Perubahan Iklim, Manajemen dan Restorasi Lingkungan, dan Pengurangan Risiko Bencana. Kedua, Rehabilitasi dan peramajaan tanaman Kakao di Daerah Kloangpopot, Sikka.

Tahun 2013-2014, selain menjalankan program-program yang sudah ada, Caritas Maumere terlibat dalam tanggap darurat bencana letusan Gunung Api Rokatenda. Dalam tanggap darurat ini, Caritas Maumere bekerja sama dengan banyak lembaga kemanusiaan. Pasca masa tanggap darurat bencana tersebut, Caritas mendampingi para pengungsi Rokatenda khususnya keluarga-keluarga yang akan direlokasi ke Pulau Besar. Sasarannya adalah membangun komunitas di Pulau Besar yang inklusif dan berketahanan.