Tidak Pilah Pilih

Oleh : Eman Embu

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, lebih dikenal dengan Ahok adalah pemimpin yang tak lembek. Sesudah lebih dari dua tahun memerintah, para pengeritiknya pun mengangkat topi atas keberaniannya mengeksekusi kebijakan-kebijakan publik yang telah ditetapkan. Dan inilah hal yang membedakannya dengan banyak pemimpin lembek di negeri ini.
Ahok punya mimpi besar mengubah Jakarta menjadi kota modern yang lebih layak huni. Satu di antaranya adalah menata kembali pemukiman warga, menormalisasi sungai, dan memfungsikan jalur hijau sepanjang aliran sungai. Konsekuensinya, bantaran sungai harus steril dari semua bangunan dan pemukiman.

Sekedar menyebutkan satu contoh. Akhir Agustus tahun lalu belasan ruko di Kawasan Jalan Jatinegara Barat yang terletak di bantaran sungai Ciliwung ia rubuhkan. Ruko-ruko tersebut usianya sudah lebih dari setengah abad. Tidak diskriminatif. Baginya, penegakkan hukum bukanlah tawar-menawar di pasar gelap; tapi tegas dan jelas untuk semua, tak hanya menyasar rakyat miskin. Tidak pilah-pilih.

Ini membedakannya dengan para pemimpin yang galak pada rakyat lemah, gemetar berhadapan dengan yang kuat, dan sujud kepada yang mampu menyogok sambil merekayasa kilah pembenar bukan menegakkan kebenaran.

***

Ahok hanya satu. Tapi pemimpin yang kuat, berani, dan visioner dalam konteks yang berbeda-beda mestinya tak hanya satu. Di Sikka, bupati Yoseph Ansar Rera, bukanlah figur yang konfrontatif. Ia membangun hubungan baik dengan semua kalangan. Tak sedikit orang yang mengenalnya sebagai pribadi yang ramah. Tentu, ini adalah satu sisi dari kepemimpinan yang layak diapresiasi. Tapi, dalam kurun waktu lebih dari setahun ini, bukanlah terobosan-terobosan kebijakan yang disaksikan. Yang terlihat dengan mata telanjang adalah pelaksanaan fungsi-fungsi birokrasi dan seremonial.

Lebih jauh, yang belum tampak pada hari-hari ini adalah pemimpin yang kuat dan visioner yang mampu memberi arah, menetapkan pekerjaan besar bersama, dan cerdas berkomunikasi sehingga mampu menggerakan partisipasi warga. Ironis, tentu saja. Lantaran, ini terjadi pada a distrust society. Karena itu, persoalan menjadi semakin kompleks.
Penanganan bencana Rokatenda adalah test case yang paling baik untuk memeriksa entakah kepemimpinan di Sikka kuat atau lembek. Dari penanganan bencana tersebut kita tak melihat keputusan-keputusan yang desisif padahal situasi bencana mengharuskan itu; tak tampak kekuatan implementatif yang terukur karenanya masalah menjadi berlarut-larut tak kunjung selesai; tak kelihatan daya komunikasi yang kreatif yang menggerakan warga, karena itu alih-alih mendukung, banyak resistensi dari banyak kalangan terhadap keputusan-keputusan yang dibuat.

***

Kini dari bussines as usual yang senyap, melalui media massa terdengar suara sayup-sayup sampai tentang satu dua kebijakan. Ansar Rera mencoba membenahi Maumere agar menjadi kota yang lebih layak huni. Untuk itu, rumah-rumah dan pemukiman ditata, lingkungan yang sering tak mendapat prioritas dibenahi.

Sudah lama, di Maumere, kali-kali mati menjadi tempat sampah, tapi kini kita mendengar suara tentang pemilahan dan pengolahan sampah. Aset Pemkab termasuk bidang-bidang tanah yang diduduki warga yang dari bupati ke bupati tak diurus dengan benar sekarang sedang diidentifikasi dan dipastikan statusnya untuk dimanfaatkan. Tak sedikit warga yang bermukim di bantaran kali mati, dan kini normalisasi bantaran kali dikerjakan, mulai dari kali Wairklau.

Kenyataannya, ada bekas pimpinan DPRD yang punya sekolah di atas tanah pemkab. Ada akal-akalan pejabat membentuk yayasan untuk menguasai tanah negara lalu tanah itu dikapling dan dibagikan kepada anak cucu. Ada lagi bohong-bohongan jual beli tanah pemkab yang dibuat oleh mantan pejabat.

Karena itu, apakah urusan normalisasi bantaran sungai dan penertiban aset-aset pemkap dilakukan tidak pilah-pilih? Benarkan penegakan hukum tidak hanya berlaku untuk yang lemah dan miskin, tetapi juga menyasar mereka yang kuat? Adakah konsitensi, dan keberanian dari pemimpin di Sikka untuk menjalankan semuanya itu?

Sesudah penggusuran 51 keluarga miskin di bantaran kali Wairklau pada 27 Oktober lalu, tak ada lagi yang dikerjakan. Belum lagi dari pengalaman mengurus persoalan-persoalan publik sebelumnya seperti test case mengurus pengungsi Rokatenda tadi, kita makin disadarkan bahwa persoalan pokok yang dihadapi di Sikka hari ini adalah leadership yang tak kuat.

Pasti ada, apalagi yang terlahir untuk memuji pemimpin, yang mengatakan bahwa penilaian di atas nyinyir dan gunakan kaca mata buram. Kalau demikian, dalam perjalanan waktu, Yoseph Ansar Rera yang menggenggam kekuasaan, punya macam-macam risorsis, dan punya jaringan, memiliki kesempatan untuk membantah bahwa penilaian ini tak benar. Ia punya waktu untuk membuktikan bahwa dalam aspek-aspek kunci kepemimpinan, rangkingnya lebih tinggi dari bupati-bupati Sikka sebelumnya. Bukan sebaliknya.