Tingkatkan Kapasitas Komunitas dalam Tanggap Darurat Bencana, Caritas Maumere Lakukan Pelatihan

Indonesia termasuk negara yang sering mengalami musibah bencana alam. Hampir semua jenis ancaman bencana alam mulai dari gempa bumi, gunung meletus, tsunami, banjir, kekeringan, dapat terjadi di negeri ini. Hal yang sama terjadi di juga di Kabupaten Sikka, Flores – NTT. Potensi ancaman bencana gempa bumi, letusan gunung berapi, tsunami, banjir, dan kekeringan bukan merupakan sesuatu yang baru yang belum pernah terjadi di Kabupaten ini. Hampir semua jenis bencana ini sudah pernah melanda Kabupaten Sikka.

Menghadapi ancaman-ancaman bencana ini, semua pihak perlu memiliki kapasitas dan kemampuan terkait kesiapsiagaan bencana. Penanggulangan bencana termasuk fase tanggap darurat harus dilakukan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi. Namun hambatan yang sering terjadi selama ini adalah kurangnya pemahaman dan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bahaya bencana mulai dari kapasitas dalam pengurangan risiko bencana hingga penanganan atau tanggap darurat bencana.

Berkaitan dengan pentingnya upaya peningkatan kapasitas warga dalam menghadapi bencana, Caritas Keuskupan Maumere dalam pendampingan komunitas lewat program Pengurangan Risiko Bencana saat ini tengah mengupayakan peningkatan kapasitas bagi komunitas dampingannya di Desa Kojagete, Pulau Besar. Warga desa dan komunitas perlu memiliki keterampilan dan pengurangan risiko bencana dengan berdasar pada azas kemanusiaan, kebersamaan, kelestarian lingkungan hidup dan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pelatihan Tanggap Darurat Bencana Bagi Komunitas.

Untuk maksud tersebut diatas, Caritas Keuskupan Maumere bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sikka (BPBD Sikka), SAR Maumere, dan didukung oleh Caritas Germany menyelenggarakan pelatihan tanggap darurat bagi komunitas. Pelatihan yang berlangsung selama 4 hari sejak Rabu 27 September hingga Sabtu 30 September 2017 bertempat di Aula Hotel Gading Beach ini dihadiri oleh setidaknya 30an orang yang merupakan perwakilan dari Tim PRB Desa Kojagete – Pulau Besar, Anggota Forum PRB Kab Sikka, utusan masyarakat dari Kelurahan Hewuli (salah satu lokasi dampingan Caritas Maumere) dan mitra-mitra Caritas Maumere seperti PMI Sikka danĀ  WVI Sikka.

Praktek Penanganan Korban Bencana

Fasilitator utama dalam kegiatan ini dari SAR Maumere yang mengupas tuntas mengenai Undang-Undang nomor 29 tahun 2014 tentang pencarian dan pertolongan korban bencana, serta membahas hal-hal teknis terkait penanganan korban bencana termasuk praktek pertolongan korban bencana di air. Selain dari SAR Maumere juga dari BPBD Sikka yang membahas tentang manajemen dan konsep kebencanaan.

Frans Angelinus sebagai Koordinator Program Pengurangan Risiko Bencana Caritas Keuskupan Maumere dalam pembukaan pelatihan ini berharap agar melalui kegiatan ini dapat terbangun suatu komunitas masyarakat yang tangguh, resilien, dan siaga terhadap penanganan bencana yang juga termuat dalam Undang-Undang nomro 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana. Hal senada juga disampaikan oleh Sekretaris BPBD Sikka, Avelinus Yuvensius, S.Sos dalam sambutannya. “Kita berusaha sekuat tenaga untuk bisa mengurangi korban jiwa dalam setiap bencana yang terjadi. Untuk itu, pengetahuan akan bencana perlu dipelajari bukan hanya soal penanganan bencana saja tetapi juga termasuk upaya pengurangan risiko bencana dan kesiapsiagaan” demikian ungkap Avelinus. Ia juga mengatakan bahwa dalam Permendes Nomor 22 tahun 2016 disebutkan tentang dukungan kesiapsiagaan dalam penanggulangan bencana. Untuk itu masyarakat desa perlu mendiskusikan dengan kepala desa tentang hal ini. Sehingga hasil kegiatan ini dapat ditindaklanjuti di tingkat desa bersama masyarakat dan pemerintah desa. (J)