Upacara Adat di Mata Air – Desa Runut

Desa Runut, merupakan salah satu desa di Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka yang mengalamai masalah seputar kebutuhan air bersih. Dengan kondisi topografi yang berbukit dan lembah, dimana sebagian besar wilayah hutannya telah habis ditebas demi membuka lahan kebun mengakibatkan banyak sumber mata air di desa ini yang akhirnya mengering. Meski demikian, beberapa mata air yang senantiasa mengalir setiap tahunnya masih tersisa di lereng-lereng bukit di desa ini. Kendala prasarana air bersih yang masih belum mampu “menghijaukan” desa ini, membuat beberapa mata air yang masih berpotensi di desa ini pun mubazir.
Caritas Keuskupan Maumere melalui program PfR-nya telah beberapa tahun secara khusus menaruh perhatian pada upaya pengurangan risiko bencana, adaptasi perubahan iklim, dan manajemen restorasi ekosistem di wilayah Keuskupan Maumere sekaligus wilayah Kabupaten Sikka. Salah satu aksi nyata program ini adalah penanganan persoalan kekeringan, dan Desa Runut(Paroki Runut) menjadi salah satu desa/paroki yang masuk dalam wilayah kerja Program PfR Caritas Keuskupan Maumere.
Dalam beberapa tahun ini, Caritas Keuskupan Maumere secara intens terlibat menangani persoalan kekeringan di desa ini. Salah satu kegiatan yang dicanangkan di desa ini adalah perbaikan jaringan perpipaan air bersih bagi masyarakat. Untuk merealisasikan rencana ini, Caritas Keuskupan Maumere bekerjasama dengan Yayasan Dian Desa. Proses awal yang dilakukan meliputi survey kondisi jaringan perpipaan air minum yang sudah ada untuk mengetahui titik-titik kerusakan pipa, bak-bak penampungan, kran-kran yang ada, juga sekaligus mendata sumber-sumber mata air yang bisa digunakan. Dari informasi yang diperoleh inilah perbaikan jaringan air bersih kemudian dilakukan.
Tanggal 11 Juli 2014 lalu, bertempat di mata air Wair Lodo, Desa Runut, dengan menggandeng para tua adat, pemerintah desa, dan masyarakat setempat, Caritas Keuskupan Maumere melaksanakan ritual/upacara adat di mata air. Upacara ini sebagai tahap awal sekaligus pembukaan pekerjaan perbaikan jaringan air bersih. Turut hadir dalam kesempatan itu Direktur KPSE Caritas Keuskupan Maumere; Rm. Kanisius Mbani Pr, PfR Project Coordinator; Margaretha Helena, dan Kepala Desa Runut; Petrus Kanisius.
Margaretha Helena dalam konfirmasinya menyatakan, kegiatan ini pada dasarnya sebagai salah satu langkah penanganan masalah kekeringan terlebih pada ketersediaan air bersih bagi masyarakat Desa Runut. “Munculnya masalah air bersih di Desa Runut khususnya di Dusun Lodong ini melalui kajian yang dilakukan bersama masyarakat. Masyarakat mengungkapkan bahwa ancaman yang paling dirasakan di Desa Runut adalah kekeringan. Awalnya kami berpikir kekeringan ini ada kaitannya dengan curah hujan yang rendah dan bagaimana mereka mampu mengelola lahan pertanian. Tetapi dalam perjalanan waktu ternyata ada hal lain yang menjadi urgent selain kebutuhan air untuk lahan pertanian yakni pemenuhan kebutuhan air bersih di dalam rumah tangga.”
Upacara adat ini meliputi pemberian sesajian berupa anak babi, telur ayam, beras, dan beberapa perlengkapan sesajian lainnya menurut adat kebiasaan setempat. Dominikus Lewuk selaku tua adat setempat pun didaulat untuk memimpin upacara adat tersebut. Berdasarkan wawancaranya, ia sekaligus mewakili Suku Lewuk, suku yang mendiami kawasan sekitar mata air tersebut menyatakan turut mengapresiasi kegiatan ini. “Kami sebagai masyarakat suku lewuk sekaligus masyarakat Desa Runut sangat mendukung kegiatan ini, demi kepentingan masyarakat umum Desa Runut”. Mengenai makna dari Upacara ini, ia menyatakan bahwa alam pun harus dihormati karena dia memiliki kekuatan yang luar biasa. “Air harus tetap utuh, hutan juga harus tetap aman, sehingga upacara adat seperti ini harus dilakukan supaya kita manusia yang menikmati air ini pun aman dan sejahtera. Jika tidak, maka alam akan menghukum kita”.

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *